Sidoarjo, Pointernews.id | 27 Juli 2025 – Ribuan kader PDI Perjuangan dari seluruh penjuru Kabupaten Sidoarjo mengikuti peringatan tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli) yang digelar secara serentak di enam titik kecamatan pada Sabtu malam. Salah satu titik utama acara digelar di Kecamatan Tanggulangin, diwarnai dengan penyalaan ribuan lilin sebagai simbol perenungan dan penghormatan atas peristiwa kelam 29 tahun silam.
Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Sidoarjo, dan merupakan bagian dari agenda tahunan partai untuk “Jasmerah” – Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, sebagaimana ditekankan oleh Plt Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Hari Yulianto.
“Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah perjalanan partai, tetapi juga menjadi cermin penting dalam proses demokratisasi bangsa. Kita belajar bahwa independensi partai politik adalah pondasi dasar berdemokrasi. Tidak boleh ada intervensi kekuasaan atas partai manapun,” tegas Hari Yulianto, yang juga merupakan anggota DPRD Jawa Timur.
Hari menambahkan, peristiwa Kudatuli merupakan buntut dari gangguan kekuasaan terhadap kedaulatan internal PDI di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, yang terpilih sah dalam Kongres Surabaya pada tahun 1993. Kudatuli menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap otoritarianisme, dan tonggak lahirnya PDI Perjuangan.
“Kita berdoa bukan hanya untuk para korban yang gugur, tetapi juga memohon kepada Tuhan agar yang masih dinyatakan hilang segera ditemukan, dan agar peristiwa seperti ini tidak pernah terulang,” ungkap salah satu pembaca doa di Kecamatan Tanggulangin.
Sementara itu, Plt Sekretaris DPC Sidoarjo, Bambang Riyoko, menyebut bahwa acara ini digelar serentak di enam Dapil, yakni Kecamatan Sidoarjo, Tanggulangin, Prambon, Tarik, Taman, dan Gedangan. Total peserta tercatat 1.433 kader, berasal dari unsur DPC, fraksi DPRD, PAC, ranting, serta simpatisan dan pelaku sejarah.
“Kegiatan ini adalah bentuk kesadaran kolektif kader terhadap nilai-nilai perjuangan partai dan penghormatan terhadap sejarah demokrasi bangsa,” jelas Bambang usai memimpin doa bersama di Kecamatan Taman.
Rangkaian Acara Peringatan: Pemutaran film dokumenter Kudatuli, Testimoni para pelaku sejarah Kudatuli, Penyalaan lilin dan doa bersama, Renungan dan refleksi nilai-nilai perjuangan, Peringatan ini dihadiri pula oleh pelaku sejarah Kudatuli, kader-kader militan, serta para pengurus dari 346 desa di 18 kecamatan. Semangat persatuan dan gotong royong juga terlihat kuat dalam acara yang sarat makna ini.
Peristiwa Kudatuli menjadi penting dalam konteks konstitusi dan hukum Indonesia, terutama dalam hal:
1. Jaminan Kebebasan Berserikat dan Berorganisasi
UUD 1945 Pasal 28E ayat (3): “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”
UU No. 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, mengatur kemandirian partai dalam proses politik dan keorganisasian.
2. Pelanggaran HAM
Tragedi Kudatuli merupakan pelanggaran HAM berat terhadap hak hidup, keamanan, dan kebebasan berpendapat. Pengingat bahwa: Negara wajib melindungi hak-hak sipil setiap warga negara (UUD 1945 Pasal 28I). Proses reformasi dan demokratisasi tidak boleh dibajak kembali oleh praktik otoritarianisme.
PDI Perjuangan Sidoarjo menegaskan bahwa semangat Kudatuli adalah amanah perjuangan, untuk: Menjaga kedaulatan partai politik dari campur tangan kekuasaan
Membangun kesadaran kader tentang sejarah partai dan bangsa. Memastikan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial tetap hidup dalam praksis politik.
“Mari terus kobarkan semangat merah, api perjuangan rakyat tidak akan pernah padam. Kudatuli adalah pelita yang menyala di jalan kebenaran demokrasi,” seru Hari Yulianto menutup pidatonya.
Peringatan Kudatuli di Sidoarjo menjadi bukti bahwa ingatan kolektif terhadap sejarah kelam bangsa tidak boleh dilupakan. Melalui semangat Jasmerah, PDI Perjuangan terus merawat demokrasi, menolak lupa, dan mengokohkan perjuangan rakyat di tengah dinamika zaman. Red (El/ynr).