Sidoarjo, Pointernews.id | 7 Juni 2025 – Di saat kebanyakan warga terlelap dalam tidur malam, ada satu kampung yang justru mulai sibuk meracik adonan dan menyiapkan ratusan kue tradisional. Tepatnya di RT 2 RW 1 Desa Berbek, puluhan tangan terampil mulai bekerja sejak pukul 9 malam hingga dini hari, menciptakan jajanan tradisional yang tak hanya menggoda lidah, tapi juga menyimpan nilai budaya tinggi.
Mulai dari apem, lemper, nogosari, ketan sambel, donat, hingga berbagai kudapan khas lainnya, semua dibuat dengan penuh cinta dan keahlian dari resep turun-temurun yang telah melewati tiga generasi. Sekitar 30 produsen aktif di kampung ini menjadikan wilayah tersebut sebagai pemasok utama jajanan pasar dan hajatan di sekitar Sidoarjo dan sekitarnya.
Harga jual yang dipatok rata-rata hanya Rp1.600 per biji, namun nilai yang terkandung di dalam setiap kue jauh lebih besar daripada angka tersebut. Ini bukan sekadar soal makanan. Ini tentang usaha keras, kehangatan keluarga, dan amanah budaya yang diwariskan dari masa ke masa.
“Kami tidak hanya menjual kue. Kami menyajikan rasa, tradisi, dan harapan,” ujar salah satu pengrajin kue, Ibu Sri Wahyuni, yang telah memproduksi apem dan ketan sambel sejak usia belasan tahun.
Semangat gotong royong dan kekeluargaan sangat terasa di kampung ini. Para ibu, bapak, bahkan anak-anak muda turut membantu proses produksi dari menyiapkan bahan, membungkus, hingga mengantar ke pasar. Tak heran, kampung ini mulai dikenal masyarakat luas sebagai “Kampung Jajan Berbek”, pusatnya jajan pasar yang tak hanya enak tapi juga bermakna.
Pemerintah desa dan masyarakat sekitar sangat mendukung keberadaan kampung ini sebagai bagian dari kekuatan ekonomi lokal dan pelestarian budaya kuliner Nusantara. Diharapkan ke depan, Kampung Jajan Berbek bisa lebih dikenal dan mendapatkan akses pelatihan, peralatan modern, serta pasar yang lebih luas.
Kepada para produsen, teruslah berkarya dengan semangat. Usaha kalian bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi menjaga cita rasa bangsa.
Dan kepada masyarakat Indonesia, mari kita dukung UMKM lokal, cintai jajanan tradisional, dan jadikan kuliner sebagai jembatan untuk mengenal lebih dalam akar budaya kita sendiri.
Kampung Jajan Berbek adalah pengingat bahwa kekayaan budaya tidak hanya ada di museum atau buku sejarah, tapi hidup di dapur-dapur kecil, di tangan-tangan ibu rumah tangga, dan di aroma kue yang mengepul di pagi buta.
Mari kita jaga, kita dukung, dan kita teruskan. Salam hangat dari Kampung Jajan, Desa Berbek – di mana rasa, kerja keras, dan warisan budaya berpadu dalam setiap gigitan. Red (adm/ynr).