Sidoarjo, Pointernews.id | 22 Juli 2025 — Perjalanan mulia kembali ditorehkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sidoarjo dalam program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Pada Selasa (22/07/2025), tim Baznas yang terdiri dari M. Chasbil Aziz, Drs. Achmad Saleh, MM., Achmad Richi, Minan, dan Syukron memulai serangkaian monitoring dan survei lapangan yang mencatat tonggak bersejarah dalam misi kemanusiaan mereka.
Program ini merupakan hasil sinergi antara Baznas Sidoarjo dan Baznas Provinsi Jawa Timur, bukan sekadar kunjungan rutin, tetapi sebuah wujud nyata kepedulian terhadap hak dasar masyarakat: hak untuk hidup dalam hunian yang layak, aman, dan bermartabat.
Kunjungan pertama dilakukan ke rumah Ibu Dina Samawati di Desa Mliriprowo, Kecamatan Tarik. Pemandangan yang dulu menyayat hati—rumah berdinding bambu, atap bocor, tanpa fasilitas sanitasi—kini berubah total. Rumah baru yang kokoh, bersih, dan sehat berdiri sebagai simbol kemenangan atas keterbatasan.
“Kami masih mencari hari baik untuk menempati rumah baru ini,” ujar Ibu Dina dengan senyum penuh haru, menandai awal baru yang penuh harapan bersama suami dan dua anaknya.
Transformasi ini tak hanya menyentuh aspek fisik, namun juga mengembalikan martabat keluarga yang selama ini terpinggirkan oleh kondisi ekonomi.
Perjalanan dilanjutkan ke rumah Bapak Untung di Desa Tarik, yang sebelumnya menjadi langganan banjir. Kini, hasil intervensi program RTLH menunjukkan keberhasilan luar biasa. Sistem drainase yang diperbaiki, posisi bangunan yang ditinggikan, serta material yang digunakan membuat rumah tersebut terbebas dari genangan.
“Rumah sudah tidak banjir lagi dan jauh lebih nyaman dari sebelumnya,” kata Bapak Untung dengan rasa syukur.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Baznas tidak hanya memperbaiki rumah, tapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan hunian, sebuah pendekatan yang cerdas dan berorientasi jangka panjang.

Survei lanjutan di Kelurahan Megersari, Kecamatan Sidoarjo, mempertemukan tim dengan Ibu Herminingsih, 75 tahun, seorang janda tangguh yang setiap hari mengumpulkan barang bekas untuk menghidupi dua anaknya yang sudah berkeluarga.
Rumahnya masih berdinding kayu, atap rendah, dan dalam kondisi sangat memprihatinkan. Namun semangat hidup beliau tetap menyala. Tim Baznas pun mencatat kasus ini sebagai prioritas tindak lanjut.
“Setiap kasus yang kami temui adalah amanah yang harus ditangani dengan serius,” tegas M. Chasbil Aziz, menandakan bahwa tidak ada satu pun warga prasejahtera yang akan diabaikan.
Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ini telah menjadi model filantropi yang terstruktur dan berkelanjutan. Setiap rumah yang dibangun atau direnovasi tidak hanya mengubah kondisi fisik, tetapi mengembalikan harapan, harga diri, dan kehidupan bagi keluarga penerima manfaat.
Baznas Sidoarjo membuktikan bahwa zakat, infaq, dan sedekah tidak berhenti di angka-angka nominal, tetapi mengalir menjadi energi perubahan sosial.
Kolaborasi dengan Baznas Provinsi Jawa Timur memperkuat jejaring kerja kemanusiaan ini, menunjukkan bahwa ketika sinergi dibangun atas dasar keikhlasan dan amanah, maka dampaknya dapat menjangkau lebih luas, lebih dalam, dan lebih bermakna.
Di tengah kompleksitas tantangan sosial ekonomi, Baznas Sidoarjo terus menyalakan lilin-lilin harapan. Program RTLH menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil yang konsisten dan penuh kepedulian.
Satu rumah, satu keluarga, satu masa depan. Inilah cara Baznas mengubah dunia—pelan tapi pasti, satu langkah kemanusiaan dalam satu waktu. Red (el/ynr).