Mojokerto, Pointernews.id | 7 Agustus 2025 — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat kebangsaan kembali menggema di berbagai pelosok tanah air. Tak terkecuali di Mojokerto, di mana setiap tahun ruas-ruas jalan dipenuhi dengan semarak pawai dan karnaval rakyat. Namun di tengah kegembiraan perayaan itu, masyarakat Mojokerto tak pernah lupa akan satu tradisi kebanggaan yang kini tinggal kenangan: Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto.
Event olahraga jalan kaki ini dahulu menjadi ikon tahunan yang digelar setiap bulan November, dan bertahan selama lebih dari tiga dekade, menyatukan semangat olahraga, patriotisme, dan kebersamaan masyarakat Kabupaten dan Kota Mojokerto.
Menurut sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq, Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto pertama kali digelar pada tahun 1962, diinisiasi oleh Inspeksi Olahraga Kabupaten Mojokerto. Kala itu, ajakan untuk meramaikan kegiatan olahraga ini disambut dengan antusias oleh para guru olahraga dan pegiat olahraga lokal.
“Minimnya lembaga pendidikan saat itu membuat peserta masih terbatas, tapi semangatnya luar biasa,” ungkap Ayuhanafiq, yang akrab disapa Yuhan.
Gagasan tersebut langsung mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto, yang saat itu dipimpin oleh Bupati RA Basuni. Pemerintah daerah pun menggerakkan seluruh instansi dan perangkatnya untuk ambil bagian.
“Instansi pemerintah daerah digerakkan untuk ikut serta dalam gerak jalan. Kepanitiaan dibentuk lintas sektor, dari OPD, Korem 082 CPYJ, Kodim 0815 Mojokerto, Polres Mojokerto hingga SPN Polda Jatim,” lanjut Yuhan.
Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto menempuh jarak panjang, dengan start di depan Yayasan Pendidikan Pahlawan Mojosari dan finish di Alun-Alun Kota Mojokerto. Waktu tempuhnya berkisar lima jam, menjadikan kegiatan ini sebagai tantangan fisik yang dinanti-nanti peserta setiap tahunnya.
Bukan sekadar olahraga, gerak jalan ini adalah simbol ketahanan, perjuangan, dan disiplin, selaras dengan semangat perjuangan kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan.
Dari tahun ke tahun, animo peserta terus meningkat. Tidak hanya pelajar, tetapi juga instansi pemerintah, organisasi masyarakat, hingga aparat keamanan turun langsung meramaikan acara. Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto pun tumbuh menjadi kebanggaan daerah, sejajar dengan Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto–Surabaya yang lebih dulu dikenal publik Jawa Timur.
“Setiap bulan November, kota ini hidup dengan semangat gotong royong dan sportifitas. Ribuan orang tumplek blek di sepanjang rute. Itu bukan hanya olahraga, tapi pesta rakyat,” kenang salah satu mantan peserta dari generasi 90-an.
Kini, meski kegiatan ini telah lama tidak digelar, gaung dan kenangannya tetap hidup di hati masyarakat Mojokerto. Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto bukan sekadar catatan sejarah, melainkan warisan semangat yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan cinta tanah air.
Di tengah perayaan kemerdekaan, banyak warga yang berharap agar tradisi ini bisa kembali dihidupkan, menjadi ruang nostalgia sekaligus wadah penguatan jati diri lokal.
“Ini bukan hanya tentang jalan kaki dari Mojosari ke Mojokerto. Ini tentang menyambung sejarah, membakar semangat anak muda, dan menghormati perjuangan masa lalu,” ujar seorang tokoh pemuda Mojokerto.
Banyak generasi muda kini mulai mengenal nama Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto lewat cerita para orang tua dan guru mereka. Komunitas pecinta sejarah dan olahraga lokal mulai menyerukan ajakan untuk merevitalisasi tradisi ini sebagai bagian dari peringatan HUT RI ke-80 dan momentum menyatukan masyarakat Mojokerto.
“Dengan semangat kebersamaan, mari kita lanjutkan perjuangan para pendahulu, meski hanya dengan langkah kaki dan peluh semangat,” seru komunitas olahraga lokal.
Gerak Jalan Mojosari–Mojokerto adalah contoh nyata bagaimana kegiatan sederhana dapat menyatukan masyarakat, menginspirasi generasi, dan menanamkan kecintaan terhadap negeri.
Mari jadikan peringatan Kemerdekaan RI tahun ini sebagai momentum untuk membangkitkan kembali event-event yang sarat makna dan sejarah seperti ini. Karena setiap langkah yang kita ayunkan hari ini, adalah bagian dari langkah panjang bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang.
“Kalau bukan kita yang menjaga warisan daerah, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”. Red (srh).