Sidoarjo, Pointernews.net | 16 November 2025 — Puluhan siswa SMP PGRI 1 Buduran mendapat pengalaman istimewa pada Sabtu pagi, 15 November 2025, melalui kegiatan seminar budaya bertajuk “Membedah Wayang Gagrag Porongan”. Bertempat di Aula Pandan Wangi, para siswa diperkenalkan secara langsung dengan Wayang Gagrag Porongan, salah satu seni budaya wayang kulit khas Sidoarjo yang memiliki karakteristik unik dan kaya nilai kearifan lokal.
Seminar ini menghadirkan narasumber utama Ki Yohan Susilo, S.Pd., M.Pd., dalang Wayang Kulit Gagrag Porongan sekaligus dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Negeri Surabaya. Dengan gaya tutur khas dalang dan kepakaran akademiknya, Ki Yohan mengajak siswa memahami seni, makna, serta nilai-nilai karakter yang terkandung dalam Wayang Gagrag Porongan.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Tirto Adi, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa seminar dengan topik wayang adalah hal yang masih sangat jarang dilakukan oleh sekolah.
“Dari hampir 200 SMP negeri dan swasta di Sidoarjo, hanya SMP PGRI 1 Buduran yang menggelar Seminar Wayang,” ujar Kepala Dispendikbud.
Ia menambahkan bahwa SMP PGRI 1 Buduran merupakan satu-satunya SMP swasta yang memiliki KKSB – Kelas Khusus Seni Budaya, sebuah program unggulan yang konsisten merawat seni lokal.
Kepala dinas juga menyebut bahwa narasumber seminar, Ki Yohan Susilo, adalah salah satu dalang kebanggaan masyarakat Sidoarjo. Ia mengungkapkan harapan besar agar buku materi Wayang Gagrag Porongan segera ditulis dan diterbitkan.
“InsyaAllah Dinas Dikbud Sidoarjo siap mendukung penerbitannya. Buku ini akan sangat bermanfaat sebagai bahan pembelajaran dan muatan lokal Sidoarjo,” ujarnya.
Beliau juga meminta Kabid Mutu dan Kabid Kebudayaan untuk ikut menindaklanjuti hal tersebut. Kepala Dispendikbud juga memberi semangat khusus kepada SMP PGRI 1 Buduran yang dikenal unggul dalam kesenian daerah.
“Jika ada permohonan penampilan seni budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan selalu merekomendasikan SMP PGRI 1 Buduran. Grup Campursari Pandan Wangi mohon bisa dibangkitkan kembali, bahkan ditargetkan tampil rutin di TVRI Jawa Timur,” pesannya penuh dukungan.
Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Indrajayanti Ratnaningsih, S.Si., M.Pd., Gr., menjelaskan bahwa seminar ini diselenggarakan dalam rangka Peringatan Hari Wayang Nasional 2025.
“Wayang adalah seni budaya adiluhung Nusantara, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 7 November 2023,” ujarnya.
Wayang bukan hanya pertunjukan, tetapi sarana pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat teladan untuk membentuk budi pekerti.
“Nilai luhur wayang harus diwariskan di sekolah, agar anak-anak tidak hanya hebat secara akademis, tetapi juga hebat berkarakter,” imbuhnya.
SMP PGRI 1 Buduran sendiri telah lama memanfaatkan wayang sebagai media pembelajaran. Setiap MPLS, siswa baru dikenalkan tokoh dan karakter wayang. Bahkan, sekolah ini pernah bermitra dengan mahasiswa Unesa membuat aplikasi game wayang, sebuah program PKM yang didanai secara nasional.
Selama seminar, Ki Yohan Susilo menjelaskan materi “Mengenal, Mewarisi, dan Melestarikan Wayang Gagrag Porongan sebagai Media Pendidikan Karakter Bangsa”.
Ia menegaskan pentingnya menguri-uri budaya Jawa agar tidak punah:
“Banyak generasi muda Sidoarjo yang belum mengenal Wayang Gagrag Porongan. Padahal, ini adalah warisan lokal yang sarat nilai karakter dan edukasi,” jelasnya.
Ki Yohan memaparkan tiga tujuan utama:
- Mengenal – memahami struktur pertunjukan dan esensi Wayang Gagrag Porongan.
- Mewarisi – strategi pewarisan kepada generasi muda.
- Melestarikan – menawarkan solusi inovatif agar wayang tetap hidup.
Menurutnya, Wayang Gagrag Porongan merupakan sub-gaya wayang kulit khas Porong–Sidoarjo, mulai berkembang pada tahun 1980 oleh Ki Soewoto Ghozali, yang kerap melakukan rekaman di RRI Surabaya. Gagrag ini memiliki ciri dimulainya pertunjukan dengan tari Remo, sebuah identitas yang melekat pada budaya Jawa Timur.
Ia menekankan perlunya strategi pelestarian, seperti memasukkan ke jejaring pendidikan, kurikulum, serta penggunaan media kreatif. Suasana seminar berlangsung sangat interaktif. Siswa, guru, tamu undangan, dan pemerhati budaya saling berlomba mengajukan pertanyaan.
Hadir sejumlah tokoh dan pejabat yang menunjukkan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya, antara lain: Kabid Mutu Pendidikan, Kabid Kebudayaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra, Pengawas SMP, Ketua Perwakilan YPLP PGRI Kabupaten Sidoarjo, Kepala UPT Museum Negeri Mpu Tantular, MGMP Bahasa Jawa Sidoarjo, Ketua Komite Sekolah, Dekesda, Orang tua, siswa KKSB, guru, dan tenaga kependidikan.
Semua menunjukkan komitmen dan semangat bersama dalam menjaga warisan budaya. Acara ini menegaskan kembali komitmen SMP PGRI 1 Buduran sebagai sekolah yang konsisten melestarikan seni tradisi Nusantara, terutama budaya khas Sidoarjo.
Dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para akademisi, para seniman, serta masyarakat, SMP PGRI 1 Buduran diharapkan terus menjadi garda depan pelestarian Wayang Gagrag Porongan dan seni-seni lokal lainnya.
Semangat “Uri-Uri Budaya Jawi” bukan hanya menjadi slogan, tetapi langkah nyata untuk menjaga jati diri bangsa.
Seminar “Membedah Wayang Gagrag Porongan” bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi amanah besar yang menghadirkan harapan baru: bahwa generasi muda Sidoarjo dapat tumbuh menjadi generasi berkarakter, yang mencintai budaya sendiri, serta mampu meneruskan kekayaan warisan leluhur.
SMP PGRI 1 Buduran — dari Sidoarjo untuk Indonesia, dari budaya lokal untuk peradaban global. Semoga upaya pelestarian ini selalu mendapat dukungan, kekuatan, dan keberlanjutan. Majulah budaya, majulah pendidikan, majulah generasi penerus bangsa! Red (sgn/ynr).