Sidoarjo, Pointernews.id | 3 Juni 2025 – Di tengah deru kehidupan dan kerasnya tantangan hidup, Adi Suseno (51), warga Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, akhirnya merasakan secercah harapan baru. Sejak tahun 2018, pria yang akrab disapa Seno ini kembali ke kampung halamannya dan menjalani hidup sendirian dalam kondisi yang serba keterbatasan, usai mengalami kecelakaan kerja yang mengubah hidupnya secara drastis.
Selama 25 tahun, Adi Suseno mengabdi sebagai mekanik kendaraan tronton di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Namun musibah kecelakaan membuatnya terpaksa menghentikan pekerjaan yang selama ini menjadi tulang punggung hidupnya. Kini, ia tinggal di sebuah rumah berukuran 5×6 meter yang berdinding triplek dan beratap asbes tua. Tidak ada kamar mandi atau MCK, dan dindingnya yang kusam hanya dilapisi plastik-plastik seadanya untuk menahan air hujan yang bocor.
Meski demikian, Seno tidak menyerah. Demi bertahan hidup, ia bekerja sebagai polisi cepek di jalan desa—membantu mengatur lalu lintas dengan harapan ada pengendara yang memberinya recehan. Namun, penghasilan itu jauh dari cukup untuk memperbaiki kondisi tempat tinggalnya, apalagi untuk memenuhi kebutuhan harian.
Harapan mulai muncul ketika pada Selasa pagi, 3 Juni 2025, Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, mengunjungi langsung rumah Adi Suseno dalam kegiatan sidak sosial. Kunjungan ini menjadi titik balik yang menggugah dan memberi kekuatan baru bagi Seno. Dalam dialog yang hangat dan penuh empati, Hj. Mimik Idayana meninjau kondisi rumah yang sangat memprihatinkan, dan langsung mengambil langkah konkret untuk menyalurkan bantuan.
“Melihat langsung kondisi Pak Adi sangat menyentuh hati. Kita tidak boleh tinggal diam. Ini soal kemanusiaan,” ujar Hj. Mimik Idayana dengan mata berkaca-kaca.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sidoarjo yang dipimpin oleh M. Chasbil Azis Salju Sodar—akrab disapa Gus Jazuk—sepakat untuk segera mengusulkan program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi Adi Suseno. Komitmen ini langsung disambut antusias oleh Baznas Sidoarjo.
“Kami akan segera mengupayakan bantuan ini karena setiap orang berhak untuk hidup layak,” tegas Gus Jazuk. “Zakat harus menjadi cahaya bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Dan hari ini, kita nyalakan cahaya itu untuk Pak Seno.”
Program bantuan ini tidak hanya menjadi solusi konkret atas kondisi hunian Adi Suseno, tapi juga menyulut semangat baru dalam dirinya. Dengan suara lirih penuh haru, Adi Suseno menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam.
“Saya sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang akan saya terima. Semoga ini menjadi awal baru bagi saya,” ungkap Seno.
Kisah hidup Adi Suseno menjadi contoh nyata bagaimana zakat yang dikelola dengan tepat bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Baznas Sidoarjo terus berkomitmen memperluas jangkauan bantuannya agar bisa menjangkau lebih banyak warga yang hidup dalam keterbatasan, namun tetap memegang harapan.
Dukungan dari pemerintah daerah, sinergi lembaga sosial seperti Baznas, serta kepedulian masyarakat menjadi kekuatan besar dalam menghadirkan solusi nyata bagi mereka yang terpinggirkan. Di tengah tantangan yang dihadapi, hadirnya tangan-tangan yang mau menolong adalah bentuk amanah sosial yang sangat berarti.
Dengan semangat gotong royong dan tekad untuk tidak membiarkan satu pun warga tertinggal, langkah kecil hari ini menjadi pijakan untuk perubahan besar esok hari. Harapan itu nyata. Adi Suseno kini tidak lagi sendiri—ia bersama kita semua yang percaya bahwa kebaikan, sekecil apa pun, bisa menyalakan harapan yang besar. Red (sgn/ynr).