Sidoarjo, Pointernews.net | 23 Desember 2025 – Kabupaten Sidoarjo tercatat sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Tanah Jawa. Rekam jejak tersebut terungkap melalui peluncuran buku berjudul “Sidoarjo Bumi Aulia”, yang digagas dan diluncurkan langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Abdillah Nasih, S.M., bertempat di Pendopo Delta Wibawa, Senin (22/12/2025).
Buku setebal 269 halaman ini diterbitkan sebagai bentuk amanah sejarah dan tanggung jawab moral untuk menyampaikan kepada generasi muda bahwa Sidoarjo memiliki peran besar dalam perjalanan dakwah para wali dan aulia di Jawa.
Dalam sambutannya, H. Abdillah Nasih menegaskan bahwa Bumi Sidoarjo bukan sekadar wilayah administratif, melainkan bagian dari mata rantai penting sejarah Islam Nusantara.
“Buku ini kami hadirkan untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa Sidoarjo memiliki andil besar dalam perjalanan para wali. Kisah perjuangan dan keteladanan itu diwariskan oleh ratusan aulia yang makamnya tersebar di berbagai wilayah Sidoarjo,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa gagasan penulisan buku ini sebenarnya telah muncul sejak setahun lalu. Namun, baru dapat direalisasikan pada akhir tahun ini setelah melalui proses pengumpulan data dan pendalaman sejarah.
“Ide awalnya adalah keinginan untuk mengenalkan sejarah para wali dan aulia yang telah wafat serta dimakamkan di Sidoarjo kepada generasi penerus, khususnya anak-anak muda,” jelasnya.
Buku “Sidoarjo Bumi Aulia” merupakan edisi perdana yang memuat 17 aulia, di antaranya sejarah Pondok Pesantren Siwalanpaji, Pondok Panji Al Hamdaniyah (1787) yang telah melahirkan tokoh-tokoh ulama nasional, KH Ali Mas’ud (Mbah Ud) Pagerwojo, Makam Aulia Sono, Mbah Ibrahim Al Jaelani Bungurasih, serta Sayyid Hasan Madinah Desa Bohar.
Selain itu, juga diungkap jejak sejarah Di Bawah Kubah Masjid Jami’ Al Abror (Kihas Masjid Batik) dan situs-situs aulia lainnya.
“Jika dihitung, jumlah aulia yang dimakamkan di Sidoarjo mencapai ratusan. Namun karena ini langkah awal, baru 17 aulia yang kami angkat dalam buku ini,” terangnya.
Ketua DPRD Sidoarjo menegaskan bahwa buku ini tidak hanya bertujuan sebagai dokumentasi sejarah ulama dan aulia, tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan wisata religi yang berdampak pada perkembangan ekonomi kreatif masyarakat.
“Tidak sekadar edukasi sejarah agama, tetapi melalui buku ini branding Sidoarjo sebagai Bumi Aulia bisa benar-benar terangkat. Wisata religi berkembang, ekonomi kreatif pun ikut tumbuh seiring pengelolaan situs-situs aulia,” tegasnya.
Ia juga berharap buku ini dapat memperkuat literasi keagamaan di Sidoarjo dan menjadi benteng moral bagi generasi muda di tengah derasnya pengaruh negatif era digital.
“Pengetahuan dalam buku ini layak masuk kurikulum local wisdom dalam pelajaran agama. Dengan mengenal keteladanan para aulia, anak-anak muda diharapkan mampu menemukan jati diri dan tidak mudah terpengaruh hal negatif,” ujarnya penuh harap.
Sebagai Ketua DPC PKB Sidoarjo, H. Abdillah Nasih mencontohkan salah satu materi penting dalam buku tersebut, yakni keberadaan bangunan tua di Waru yang dikenal sebagai Markas Besar Oelama (MBO).
“Saya yakin tidak banyak warga, khususnya anak muda, yang tahu bahwa di Waru ada bangunan cikal bakal perjuangan Hizbullah. Di tempat ini, ulama besar seperti Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Bisri Syansuri pernah menyusun strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” paparnya.
Ia juga menyebut Desa Tambak Sumur, Kecamatan Waru, sebagai contoh sukses desa yang telah membranding diri sebagai desa religi, karena memiliki sedikitnya enam aulia yang sangat dihormati masyarakat.
“Masih banyak desa lain di Sidoarjo yang memiliki makam mukaromah atau situs aulia, namun baru dikenal secara lokal. Dari sinilah muncul keinginan kuat untuk menulis dan mendokumentasikan, sehingga Sidoarjo layak disebut sebagai Bumi Aulia,” tegasnya.
Penulis buku, Muhammad Subhan, yang didampingi Fathur Roziq, mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan sejarah dan spiritual Sidoarjo.
“Sidoarjo ini luar biasa. Mulai dari kekuatan Banser yang selalu siap bertugas, Pondok Siwalanpaji yang berdiri sejak 1787, hingga lahirnya tokoh besar seperti Syaichona Cholil dan KH Hasyim Asy’ari,” ungkapnya.
Menurutnya, Sidoarjo juga menjadi saksi sejarah besar dengan dipilihnya daerah ini sebagai lokasi peringatan satu abad NU skala nasional.
“Hampir setiap desa di Sidoarjo memiliki makam aulia. Bahkan diperkirakan jumlahnya mencapai 300 makam. Inilah yang membuat saya bersemangat menulis buku ini,” katanya.
Muhammad Subhan menambahkan, proses penulisan buku memakan waktu sekitar empat bulan, melibatkan 11 orang tim, mulai dari pendalaman data, wawancara, hingga penyusunan akhir.
“Buku ini dicetak terbatas sebanyak 125 eksemplar dan hari ini resmi diluncurkan,” jelasnya.
Melalui peluncuran buku “Sidoarjo Bumi Aulia”, Ketua DPRD Sidoarjo berharap nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, dan keteladanan para wali dapat terus hidup dan menjadi inspirasi lintas generasi.
Buku ini diharapkan menjadi amanah sejarah, sumber edukasi, sekaligus pemantik semangat kebangkitan wisata religi dan ekonomi kreatif, sehingga Sidoarjo semakin kokoh dikenal sebagai Bumi Aulia, bumi penuh berkah yang kaya nilai spiritual dan sejarah Islam Nusantara. Red (sgn/ynr).