Sidoarjo, Pointernews.net | 20 Juni 2026 – Grebeg Suro Sidoarjo 2026 resmi digelar pada 19–20 Juni 2026 di Lapangan Parkir Selatan Alun-Alun Sidoarjo. Ribuan masyarakat dari berbagai wilayah hadir menyaksikan rangkaian prosesi budaya yang sarat nilai sejarah, kebangsaan, dan pelestarian warisan leluhur.
Kegiatan yang mengusung semangat “Nguri-Uri Budaya” ini menjadi wujud nyata upaya menjaga tradisi lokal di tengah derasnya arus modernisasi. Berbagai agenda budaya digelar selama dua hari penuh, mulai dari jamasan pusaka, ruwatan, kirab budaya, hingga pertunjukan seni tradisional khas Sidoarjo.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Sidoarjo H. Warih Andono, SH, bersama para sesepuh budaya, budayawan, seniman, dan tokoh masyarakat Sidoarjo. Kehadiran politisi senior Partai Golkar Sidoarjo yang saat ini menjabat sebagai pimpinan DPRD Kabupaten Sidoarjo masa bakti 2024–2029 tersebut mendapat sambutan hangat dari komunitas budaya.
Dalam kesempatan itu, Warih Andono mengaku baru pertama kali mengikuti rangkaian kegiatan Grebeg Suro secara langsung. Namun demikian, dirinya merasa tertarik untuk mendalami berbagai kegiatan budaya yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Sidoarjo.
“Saya baru pertama kali ini mengikuti acara Grebeg Suro. Saya tertarik ingin mendalami kegiatan-kegiatan budaya di Sidoarjo dan saya senang bisa bertemu dengan para sesepuh serta tokoh budaya Sidoarjo. Saya siap kapan pun membantu kesulitan teman-teman budaya untuk berkegiatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Warih menegaskan bahwa sebagai anggota legislatif dirinya ingin mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi komunitas budaya agar dapat dicarikan solusi bersama.
“Sebagai anggota dewan, saya juga ingin mengetahui segala persoalan dan permasalahan teman-teman komunitas budaya di Sidoarjo. Jangan sampai ada yang tidak rukun, tidak guyub. Jika ada permasalahan, mari kita bicarakan duduk bersama dan kita diskusikan untuk memperoleh solusi yang terbaik. Itu harapan saya,” ungkapnya.
Sebelum mengikuti kirab budaya, pada Jumat sore (19/6/2026), Warih Andono memimpin prosesi nyekar dan doa bersama di Makam Bupati Pertama Sidoarjo, Raden Tjokro Negoro. Kegiatan tersebut menjadi simbol penghormatan kepada para pendiri daerah sekaligus bentuk pengingat akan pentingnya menjaga nilai sejarah dan jasa para leluhur.
Dalam kesempatan yang sama, Warih Andono juga menegaskan bahwa DPRD memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga dan melestarikan budaya daerah.
“Kami siap mendukung anggaran, fasilitas, dan edukasi muatan lokal di sekolah. Budaya jangan hanya diingat saat hari jadi saja, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” tegasnya.
Kolaborasi antara tokoh adat, budayawan, seniman, dan unsur legislatif dinilai menjadi formula ideal dalam mewujudkan Sidoarjo yang maju, modern, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya luhur.
Selama dua hari pelaksanaan, Grebeg Suro menghadirkan berbagai kegiatan budaya di kawasan Pendopo Disporapar dan Alun-Alun Sidoarjo. Salah satu agenda yang menjadi sorotan utama adalah Kirab Pusaka, yang menampilkan parade keris, tombak, dan berbagai tosan aji yang berjalan dengan khidmat.
Kirab tersebut menjadi simbol pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai identitas dan jati diri bangsa. Sejumlah tokoh budaya dan seniman turut hadir, termasuk seniman budaya Cak Tawar.
Sementara itu, Bopo Suwarso dari Paguyuban Budaya Putro Warso Wijoyo 1244 menyampaikan harapannya agar generasi muda semakin mencintai budaya bangsa.
“Kami ingin pusaka tetap hidup sebagai simbol jati diri bangsa,” tuturnya.
Ritual Jamasan Pusaka juga mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Warga yang memiliki pusaka pribadi diberikan kesempatan untuk membersihkan dan memuliakan benda-benda bersejarah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Ketua panitia Grebeg Suro, Bopo Bagus Dwi Prasetio, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar ritual seremonial.
“Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat akan akar budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus,” katanya.
Memasuki hari kedua, Sabtu (20/6/2026), suasana semakin meriah dengan digelarnya Gebyar Budaya yang menampilkan pertunjukan Jaranan dan Bantengan khas Sidoarjo. Dentuman gamelan yang berpadu dengan gerakan enerjik para penari berhasil menghibur ribuan penonton yang memadati area Lapangan Parkir Selatan Alun-Alun Sidoarjo.
Kemeriahan acara menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Warga dari berbagai daerah hadir tidak hanya untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga menjadikan Grebeg Suro sebagai ajang silaturahmi budaya yang mempererat persatuan dan kebersamaan.
Masyarakat berharap Grebeg Suro Sidoarjo dapat terus berkembang menjadi agenda tahunan berskala nasional yang mampu mengangkat potensi budaya daerah sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Semangat kebersamaan yang terbangun selama pelaksanaan Grebeg Suro 2026 menjadi bukti bahwa budaya adalah perekat bangsa. Dengan dukungan pemerintah daerah, DPRD, tokoh budaya, seniman, dan seluruh elemen masyarakat, tradisi luhur warisan leluhur diyakini akan terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan generasi masa depan.
“Budaya adalah identitas. Menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Mari bersama-sama nguri-uri budaya demi Sidoarjo yang maju, guyub, rukun, dan berkarakter.” Red (adm/ynr).