Sidoarjo, Pointernews.net | 20 Agustus 2026 — Ruang Publik Sidoarjo (RPS) menggelar Malam Ruwatan dan Tirakatan di Pendopo Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sidoarjo, Kamis (20/8/2026), mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai.
Kegiatan tersebut menjadi momentum doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, kerukunan, dan kemajuan Kabupaten Sidoarjo. Nuansa kebersamaan terasa kuat karena kegiatan melibatkan berbagai unsur masyarakat serta tokoh lintas agama dan kepercayaan yang hadir di Sidoarjo.
Doa bersama diikuti perwakilan dari berbagai latar belakang, mulai dari Islam, Katolik, Kristen, hingga penganut kepercayaan Kejawen. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan yang menyatukan seluruh peserta dalam satu semangat, yakni menjaga persaudaraan, kedamaian, dan masa depan Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol toleransi dan semangat untuk saling merangkul di tengah keberagaman masyarakat Sidoarjo. Pesan yang dibawa bukan sekadar ritual atau tradisi, tetapi juga sebuah ikhtiar bersama agar masyarakat tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
Ketua Panitia Malam Ruwatan dan Tirakatan sekaligus Bupati Swasta Sidoarjo, Sujani, S.Sos., menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang menyempatkan hadir di tengah kesibukan masing-masing.
“Saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Di saat yang sibuk seperti ini, apalagi masih dalam momen kemerdekaan, tentunya bapak dan ibu semua memiliki kesibukan masing-masing di rumah,” ujar Sujani.
Menurutnya, kehadiran para tokoh masyarakat merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa, daerah, lingkungan, hingga keluarga. Ia menilai sebuah perjuangan untuk menjaga daerah dan kehidupan bersama membutuhkan pengorbanan dari setiap individu.
“Sebuah perjuangan membutuhkan pengorbanan. InsyaAllah malam hari ini, bapak dan ibu semua akan tercatat sebagai manusia-manusia yang peduli terhadap bangsanya, wilayahnya, kabupatennya, terutama keluarga dan diri kita masing-masing,” ungkapnya.
Sujani juga menjelaskan bahwa Malam Ruwatan dan Tirakatan yang digelar RPS kali ini merupakan pelaksanaan yang kedua. Sebelumnya, kegiatan serupa pernah digelar di GOR Sidoarjo dengan melibatkan para lurah dan kepala desa.
Pada pelaksanaan sebelumnya, terdapat harapan agar setiap desa dapat membawa sejumlah warganya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Namun, rencana itu belum dapat berjalan secara maksimal karena adanya keterbatasan mekanisme birokrasi.
“Yang hadir hanya korcamnya saja. Tidak apa-apa, Alhamdulillah sudah mewakili. Karena memang di lembaga birokrasi itu ada aturannya,” jelas Sujani.
Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, kegiatan kedua ini digelar secara mandiri dan tidak menggunakan anggaran pemerintah maupun APBD. Seluruh kegiatan dilaksanakan melalui dukungan dan swadaya anggota serta teman-teman yang tergabung dalam RPS.
“Alhamdulillah untuk yang kedua kali ini kami mampu mandiri, tidak memakai APBD dan tidak memakai anggaran negara, tetapi swadaya dari teman-teman di grup RPS,” tegasnya.
Menurut Sujani, semangat swadaya tersebut menjadi bagian penting dari nilai kebersamaan yang ingin dibangun RPS. Kegiatan tidak harus selalu bergantung pada anggaran pemerintah, tetapi dapat lahir dari kepedulian masyarakat yang memiliki semangat untuk berbuat dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya.
RPS sendiri telah berdiri sekitar lima tahun. Komunitas tersebut menjadi ruang publik bagi masyarakat Sidoarjo untuk berkumpul, bertukar pikiran, berdiskusi, serta menyuarakan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo.
Melalui forum tersebut, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat saling menyampaikan gagasan dan membangun komunikasi. Semangat yang dikedepankan adalah keterbukaan, persaudaraan, kepedulian, serta dukungan terhadap berbagai upaya positif untuk kemajuan Sidoarjo.
Malam Ruwatan dan Tirakatan menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut. Doa bersama diharapkan menjadi ikhtiar batin sekaligus pengingat bahwa pembangunan daerah bukan hanya persoalan infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan kerukunan, kepedulian sosial, serta kekuatan moral masyarakat.
Di tengah keberagaman agama, kepercayaan, profesi, dan latar belakang sosial, para peserta menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling menghormati dan menguatkan.
Semangat tersebut juga menjadi amanah bersama agar masyarakat Sidoarjo terus menjaga persatuan, menjauhkan diri dari konflik, serta mengedepankan musyawarah dan kepentingan bersama.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus penanda doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan keberkahan Kabupaten Sidoarjo.
Pemotongan tumpeng juga menjadi simbol harapan agar semangat kebersamaan yang telah terbangun tidak berhenti pada malam tersebut, tetapi terus dilanjutkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui Malam Ruwatan dan Tirakatan, RPS Sidoarjo ingin menegaskan bahwa menjaga Sidoarjo merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan, semangat, toleransi, dan kepedulian dari seluruh elemen masyarakat menjadi modal penting untuk mewujudkan daerah yang aman, damai, rukun, dan semakin maju.
Dari Sidoarjo untuk Sidoarjo: berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kepedulian, bersama menjaga kedamaian dan kemajuan Kabupaten Sidoarjo. Red (ynr).